Kamis, 11 Maret 2010

Pola batik nusantara

Ciri khas batik adalah adanya ragam hiasan pada lembar kain, yang disusun (dengan cara dicap, ditulis, ataupun gabungan dari keduanya) sedemikian rupa hingga memebntuk satu kesatuan rancang desain atau pola. Secara tradisisonal, pola dan motif batik dikelompokkan berdasarkan gaya dan bentuk.

Datanglah ke museum Danar Hadi Solo. Di situ kita bias belajar banyak banyak soal batik, termasuk melihat conto-contoh wastra batik dan kisah-kisah yang mewarnainya. Misalnya keterangan tentang dua jenis pola atau desain batik, yakni batik pedalaman dan batik pesisiran,. Batik pedalaman mengacu pada produk batik yang berasal dari keraton, dan produk batik yang mendapat pengaruh kuat dari keraton, baik ragam hias (motif) maupun corak warnanya.

Keraton itu sendiri awalnya mengacu pada keratin-keraton di Yogya dan Solo yang memang meupakan kawasan awal kelahiran seni wastra batik. Tetapi dalam perkembangannya pengertian batik keraton juga pada produk batik dari (dan yang mendapat pengaruh) keraton-keraton di Cirebon dan Sumenep Madura.

Batik pesisiran dibuat di daerah pesisir (Jawa dan Madura) yang ragam hiasnya banyak mendapat pengruh dari luar. Berdasarkan bentuk, pola batik terbagi dua kelompok besar yakni pola bangun berulang atau pola bangun geometris an pola non-geometri. Secara umum, ragam hias atau motif yang masuk dalam pola geometri adalah ragam hias yang mengandung unsur garis dan bangun motif. Seperti garis miring, bujur sangkar, empat persegi panjang, trapezium, belah ketupat, jajar genjang, lingkaran bintang, yang disusun berulang-ulang, hingga membentuk kesatuan pola. Secara garis besar, pola geometri terdiri dari pola ceplok dan pola garis miring.

0 comments:

Posting Komentar